Blogger Template by Blogcrowds.

Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Film diawali dengan adegan Jojo (Tora Sudiro) yang bergelantungan di komidi putar. Penonton diajak ber-flash back untuk bisa tau kenapa si Jojo bisa ada di atas komidi putar itu.

Jojo adalah gambaran pemuda yang selalu gagal dalam berbagai pekerjaan. Diawali sebagai tukang pel di sebuah supermarket, lalu, sebagai tukang tattoo dan terakhir sebagai tukang tambal ban. Dia beranggapan semua kesuksesan itu harus dimulai dari nol, rasa percaya diri yang tinggi membuat Jojo bisa bertahan dengan kegagalan yang terus mengikutinya.

Sampai akhirnya, seorang om-om yang kemayu bernama Mudakhir (Tino Saroengallo), yang disebut sebagai ‘Pemburu’ datang ke Jojo menawarkan sebuah pekerjaan yang akan membuat kegagalan Jojo berakhir dan bisa mendapatkan uang banyak. Jojo sempat tidak tertarik, bahkan curiga dengan si Om, tapi, bujuk rayu si Om dan keinginan untuk berubah membuat Jojo pun ikut ke tempat Om Mudakhir.

Jojo dibawa ke sebuah restoran pizza bernama Quickie Express. Tapi anehnya, si pelayan yang sebagian besar cowok memakai seragam celana super pendek dan ketat, dan pengunjungnya adalah perempuan-perempuan yang genit. Jojo semakin heran ketika dibawa ke ruang bawah tanah, yang katanya Om Mudakhir adalah bekas bunker. Di sana Jojo melihat semakin banyak cowok-cowok bercelana ketat yang mondar-mandir.

Akhirnya, Om Mudakhir pun bilang kalo tempat itu adalah Gigolo Training Centre. Karuan aja Jojo menolak mentah-mentah ajakan Om Mudakhir. Tapi, setelah diuji lewat test, akhirnya memang profesi yang cocok buat Jojo adalah sebagai Gigolo.

Mulailah hari-hari Jojo di-training untuk menjadi ‘gigolo’ yang baik dan benar. Teman-teman ‘satu angkatannya’ adalah Marley (Amink), seorang ‘pemuja’ Bob Marley dan Piktor (Lukman Sardi), cowok yang gagal jadi penyiar. Mereka bertiga diajar cara menari, table manner sampai menguji keakuratan G-Spot! Setelah lulus, barulah mereka ‘diterjunkan’ ke dunia gigolo sebenarnya.

Akhirrnya mereka pun jadi Gigolo yang ‘sukses’. Mereka bertiga diberi rumah yang besar oleh Om Mudakhir dan level mereka pun naik sebagai ‘male escort’ bagi ibu-ibu kalangan pejabat dan beredar di klub-klub eksekutif. Mereka gak perlu lagi pakai seragam celana ketat itu, malah mereka diberi baju baru.

Di sinilah, porsi Tora Sudiro mulai mendominasi jalan cerita. Karena, ketika mulai menjadi male escort buat ibu-ibu pejabat, Marley dan Piktor jarang muncul. Jojo ‘di-booking’ oleh seorang tante bernama Mona (Ira Maya Sopha), yang sesudah ‘kencan’ pertama langsung meminta Jojo ‘ekslusif’ hanya melayani dia.

Tak disangka-sangka, inilah awal keribetan semua masalah Jojo. Jojo juga lagi jatuh cinta dengan seorang calon dokter yang berwajah lembut dan alim (tapi doyan dugem), bernama Lila (Sandra Dewi), yang ternyata anak seorang pengusaha yang dicurigai sering melakukan praktek-praktek kotor bernama Jan Pietersen (Rudy Wowor).

Gara-gara ini, Jojo harus membuat pilihan apa ia harus berterus terang sama Lila tentang profesi sebenarnya, atau terus menjalani ‘hubungan ganda’ dengan Tante Mona? Belum lagi, Jojo harus berurusan dengan tangan kanan Jan, pria Ambon bertampang sangar bernama Mateo (Tio Pakusadewo).

Koq gue rada gak sreg ya, dengan si Tora Sudiro, rasanya udah ketuaan banget untuk jadi cowok berusia 27 tahun? Tapi, secara keseluruhan, film-nya ok, kocak. Amink masih tetap dengan logat sunda-nya, lalu Tora dengan gaya sok cool-nya, terus Lukma Sardi yang tampil rada gemuk di film ini. Gue gak nyangka kalo si Mateo itu adalah Tio Pakusadewo… gak keliatan sih… Tapi, gue suka banget waktu Jan Pietersen dateng ke rumah Jojo.. dan waktu Mateo marah-marah ke Jan Pietersen… Hahaha.. sebuah bagian cerita yang gak disangka-sangka. Tapi, gue bisa menebak, apa hubungan Tante Mona dengan Lila. Sandra Dewi juga ok (koq mirip Dian Sastro ya?). Dan satu lagi yang ‘heboh’ adalah Ira Maya Sopha yang jadi tante-tante cool tapi genit.

Ada cameo-cameo bertebaran di film ini, misalnya Ria Irawan, Imelda Therine, Nia DiNata sendiri dan di akhir film ada Ruben.

Film ini bener-bener film komedi untuk orang dewasa, yang dari awal sampai akhir berhasil bikin satu bioskop yang full itu ketawa.

Di sebuah sudut kota Jakarta, 20 tahun yang lalu, di saat yang hampir bersamaan, 4 orang ibu sedang berjuang melahirkan anak pertama mereka. Keempat anak itu tumbuh menjadi sahabat karena memang mereka bertetangga di sebuah kampung. Sejak balita, masuk SD mereka selalu sama-sama. Mandi di kali, main layangan di atas genteng rumah.

Ketika beranjak dewasa, mereka punya cita-cita yang berbeda. Mae (Nirina Zubir), satu-satunya perempuan di antara mereka, lulus dari sekolah sekretaris, padalah cita-cita sebenarnya jadi Polwan. Bisa jadi dipengaruhi sifat tomboynya karena bergaul dengan anak laki-laki. Lalu, ada Guntoro (Desta ‘Club Eighties’), punya cita-cita jadi pelaut, tapi tidak kesampaian, terus, Beni (Ringgo Agus Rahman), si ‘boxer-wanna be’ yang malah sekolah pertanian, dan Eman (Aming) hanya bertahan satu bulan di pesantren, karena cita-cita sesungguhnya jadi politikus.

Mereka berempat berakhir jadi sekelompok anak muda yang frustasi dan jadi pengangguran. Beruntung sih, mereka anak baik-baik, kerjaan mereka paling-paling nongkron di pondok pinggir kali, main gaple dan cela-celaan.

Masalah muncul, ketika Pak Mardi (Jaja Mihardja) dan Bu Mardi (Meriam Bellina) khawatir dengan Mae. Sikap tomboy Mae memicu kekhawatiran kalo Mae gak bakal dapet jodoh. Karena mereka tau, di kampung mereka gak akan ada yang mau sama Mae yang galak, maka mereka berdua berkeliling ke kampung tetangga untuk mencari anak laki-laki sebagai jodoh potensial anak perempuan mereka satu-satunya itu.

Datanglah calon pertama, seorang guru SMP yang culun. Mae dipaksa berdandan layaknya seorang perempuan yang feminine. Tentu saja calon satu ini gak berkenan di hati Mae, dan Mae langsung member I isyarat warna merah pada Beni, yang artinya calon ini ‘ditolak’. Calon kedua juga pemuda culun, ditolak Mae. Calon-calon yang ditolak Mae diberi pelajaran oleh Beni, Guntoro dan Eman, biar mereka gak berani lagi balik ke kampun itu untuk ketemu sama Mae.

Baru, pas calon ketiga datang, seorang binaragawan bertubuh besar, yang juga ditolak Mae. Tapi, malah teman-teman Mae yang masuk rumah sakit karena dihajar binaragawan itu. Ternyata, Bobby, nama cowok itu, adalah bodyguard seorang cowok keren, anak orang kaya bernama Rendy (Richard Kevin). Rendy, yang capek pacaran dengan cewek manja, tertantang untuk mendekati Mae setelah mendengar deskripsi Bobby.

Datanglah Rendy ke kampung Mae, yang langsung disambut tatapan tak percaya dari orang tua Mae. Mae gak yang gak sempet dandan, malah langsung membuat Rendy jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gaya tomboy dan cueknya. Mae juga langsung klepek-klepek… akhirnya Mae jatuh cinta.

Tapi, semua jadi runyam, gara-gara Eman yang buta warna salah membaca isyarat dari Mae. Yang harusnya warna hijau, malah diterjemahkan warna merah oleh Eman. Langsung ketiga sahabat Mae itu menghadang Rendy ketika ia pulang dari rumah Mae. Demi solidaritas, mereka menghajar Rendy. Rendy pun ngambek.

Buntutnya, Bu Mardi stress dan masuk rumah sakit. Mae merasa bersalah,s ampai-sampai karena putus asa, ia meminta salah satu dari temannya untuk jadi pendampingnya dan mau menikahinya. Ketiga cowok itu akhirnya mengundi,s iapa yang harus jadi pendamping Mae.

Ceritanya lumayan kocak, cerita tentang persahabatan. Yang paling mengharukan, adalah pas Mae marah karena Eman salah baca tanda, dan mereka semua bilang, sebenernya apa pun warna isyarat dari Mae, mereka akan tetap bilang itu ‘merah’ karena mereka sayang sama Mae, dan gak rela Mae diambil orang lain.

Yang membuat gue rada gak sreg, sih, adegan tawuran antar kelompok kompleksnya Rendy yang anak-anak orang kaya melawan anak-anak kampung Mae. Uuhhh… sebel aja litany. Ternyata, mau anak kampung, mau anak kompleks elit, sama aja… ujung-ujungnya tawuran juga… padahal si Rendy sendiri bilang, yang pake kekerasan hanya orang-orang primitif. Tapi, kalo udah emosi… gak ada deh, yang namanya pake otak.

Untung, ending-nya adalah pas Mae mau nikah, gak berakhir kaya’ sinetron dengan adegan menangis. Meski Mae gak nikah sama cowok yang dimau, tetap aja… cekikikan…

Shahnaz (Poppy Novia), berubah menjadi remaja yang cuek dan pemberontak semenjak ayahnya (Roy Marten) meninggal dunia. Ia merasa ikut ‘andil’ dalam kejadian itu. Karena di pagi hari sebelum ayahnya meninggal, Shahnaz pulang pagi setelah dugem dan berpura-pura sedang berolahraga, buntutnya ia mengajak ayahnya untuk lari pagi. Setelah acara lari pagi itu, ayahnya kena serangan jantung.

Delapan bulan sejak kejadian itu, Shahnaz dikejutkan dengan pemberitahuan ibunya (Ira Wibowo), bahwa ia akan menikah lagi dengan seorang laki-laki bernama Thomas (Zaldi Nurzaman) yang selama ini dikenal sebagai teman ibunya.

Karena marah, Shahnaz nekat kabur dari rumah. Tujuannya menyusul pacarnya, Mika (Marcell Anthony) yang sedang mendaki gunung Merapi. Sesampainya di Yogyakarta, Shahnaz tidak bisa menghubungi Mika. Uang tinggal sedikit, tidak cukup untuk menyewa kamar yang murah sekali pun. Akhirnya, Shahnaz berkeliling-keliling tanpa tujuan.

Shahnaz pun ‘terdampar’ di sebuah daerah lokalisasi di Yogyakarta. Tiba-tiba ada preman yang mengganggunya, Shahnaz pun lari dan ia ditolong oleh seorang PSK bernama Ningsih (Dina Olivia). Ningsih kasihan pada Shahnaz dan mengajaknya untuk tinggal bersama di rumah kost-nya. Kepada induk semang dan para tetangga sekitar, Ningsih mengaku bekerja sebagai dosen kelas malam.

Shahnaz juga berkenalan dengan seorang pengamen bernama Parno (Dwi Sasono), pemuda polos yang pernah menjadi kekasih Ningsih selama ‘4 jam’! Parno mengajak Shahnaz berkeliling Yogyakarta. Mulai dari jalan-jalan keliling naik sepeda sampai menonton balap siput.

Lama-lama, kesederhanaan Parno membuat Shahnaz jatuh cinta. Parno juga ternyata menyukai Shahnaz dan mengajak Shahnaz ‘kencan’. Sepulangnya dari jalan-jalan, ternyata Mika sudah menunggu Shahnaz dan mengajaknya pulang. Pengakuan Shahnaz tentang siapa Parno kepada Mika membuat Parno kecewa.

Masalah lain, adalah Ningsih dan Parno yang ternyata masih saling menyukai, tapi gengsi.

Film ini bergenre ‘comedy-romantic’, tapi, kita gak bakal diajak ketawa ngakak, sedikit senyum-senyum aja. Filmnya sederhana. Yang agak berlebihan, waktu Ningsih diusir dari rumah kost-nya, seluruh tetangga mukulin Ningsih dan Shanaz, main hakim sendiri. Yang paling ‘manis’ di akhir cerita. Yang pasti, film ini mengingatkan gue waktu honeymoon di Yogya bulan November 2006. Gue dan suami ketawa-tawa ngeliat KFC di Malioboro, tempat kita makan, gak jadi lesehan gara-gara hujan, tampak sekilas di film ini.

Kaya’nya judul-judul film Indonesia emang rada ‘provokatif’ dan panjang, misalnya ‘Mengejar Mas-Mas’, ‘Mendadak Dangdut’, ‘3 Hari untuk Selamanya’, dan yang terbaru ‘Ma’af, Saya Menghamili Istri Anda’. Judul yang kocak dan cukup memancing rasa penasaran pengen nonton. Apalagi ini film perdananya Mulan Kwok yang setelah keluar dari Ratu malah makin laris manis main sinetron.

Jadi cerita film ini…

Adalah Dibyo (Ringgo Agus Rahman), seorang pengangguran yang terobsesi banget jadi bintang film terkenal. Lagaknya udah kaya’ bintang film yang top banget. Di lokasi syuting, ia malah mengacaukan adegan utama padahal ia hanya seorang figuran.

Di balik lagaknya yang sombong itu, Dibyo adalah sosok yang ‘menyedihkan’. Tinggal di sebuah kos-kosan, yang dibayarnya dengan uang recehan, sisa-sisa tabungannya yang terakhir; ditinggal pacarnya karena pengangguran dan sering minjem uang. Untung Dibyo punya temen satu kos yang baik, namanya John (Rizky ‘Mogil’), seorang cowok kribo bertampang culun yang terobsesi banget ngedein otot.
Ketika Dibyo lagi putus asa, John mengajak Dibyo datang ke sebuah pesta. “Biar loe gaul,” gitu kata John. Di pesta itulah, Dibyo berkenalan dengan Mira (Mulan Kwok).

Perkenalan itu berbuntut masalah yang panjang dan rumit. Dua bulan setelah perkenalan yang gak sekedar ‘perkenalan’ itu, Mira datang ke tempat kos Dibyo dan bilang kalo dia hamil. Dibyo mau bertanggung jawab, tapi satu masalahnya, Mira minta Dibyo untuk minta ijin dulu sama suaminya. Karuan Dibyo kaget dan marah. Tapi, demi Mira, Dibyo pun mau untuk bicara dengan suami Mira. Mira mengaku sudah setahun pisah ranjang dengan suaminya itu.

Tapi, ternyata, gak semudah itu, ketika melihat sosok Lamhot (Eddie Karsito) yang sangar, berbadan besar dan berambut gondrong, belum sempat bicara, Dibyo udah kabur duluan. Apalagi ketika itu, Dibyo melihat Lamhot sedang memukuli seorang laki-laki sampai babak belur.

Didukung dan ditemani oleh John dan dengan semangat ’45, Dibyo kembali ke markas Lamhot. Lagi-lagi, belum sempat Dibyo bicara, ada sekelompok preman lain yang menyerbu kelompok Lamhot. Dibyo pun terjebak dalam perkelahian. Ketika sedang genting, Lamhot mengajak Dibyo kabur.

Lamhot sangat berterima kasih karena Dibyo sudah menyelamatkan nyawanya. Kepada Lamhot, Dibyo mengaku bernama John Sidabutar, asal dari Samosir. Langsung Lamhot semakin menyukai John a.k.a Dibyo, apalagi marga Sidabutar diyakini sebagai keturunan raja-raja. Lamhot mengajak Dibyo ke rumahnya dan kemudian dikenalkan pada Butet (Shanty), adik Lamhot yang gak kalah ‘preman’ dari abangnya. Butet juga menyukai Dibyo yang katanya “Ganteng kali…” untuk ukuran orang Batak.

Lalu, terjadilah sebuah kesalahpahaman, yang membuat Lamhot marah dan memaksa Dibyo untuk mengawini Butet. Masalah jadi makin rumit. Maunya minta ijin kawin sama istrinya, malah disuruh kawin sama adiknya.

Masalah dengan Mira belum terselesaikan, Dibyo malah semakin terlibat jauh dalam kehidupan Lamhot dan Butet. Apalagi ketika Lamhot ditangkap polisi dan masuk penjara gara-gara perkelahian dengan kelompok Timor, Lamhot mempercayakan ‘kepemimpinan’ kelompok Batak pada Dibyo. Anggota kelompok Lamhot sangat menaruh hormat pada Dibyo. Dan ketika itu Dibyo merasa, inilah pertama kali dalam hidupnya ia dihormati oleh orang lain.

Pada akhirnya, Dibyo harus memilih antara Mira dan Butet… apakah ia harus berterus terang pada Lamhot dengan resiko cacat seumur hidup, atau memilih menyimpan rahasianya lalu kawin dengan Butet dan menelantarkan Mira…

Film komedi ini ok juga untuk penyegaran. Akting Ringgo Agus Rahman (apalagi didukung tampangnya yang culun itu) terkadang bikin ketawa atau malah meringis miris. Shanty cukup bikin surprise… kalo inget perannya di ‘Berbagi Suami’ sebagai gadis Jawa yang pendiam, di sini Shanty jadi cewek Batak yang bersuara keras. Yang mencuri perhatian adalah Rizky ‘Mogil’ dengan gayanya yang sok gaul dan sok keren itu.

Ekspersi yang gue suka waktu Dibyo kaget Mira ngasih tau dia udah punya suami dan Mira yang juga kaget karena teriakan kaget Dibyo (hehehe.. bingung??); terus, gaya Dibyo waktu lagi mimpin pasukan gang Batak untuk maju ke ‘medan perang’ melawan gang Timor; terus… banyak lagi adegan yang memancing tawa.

Film ini sempat menuai protes dari Kelompok Masyarakat Batak marga Simamora, gara-gara nama Lamhot Simamora yang dipakai dalam film ini. Mereka menuntut agar nama itu diganti dan SinemaArt harus meminta ma'af. Katanya sih, Monty Tiwa selaku sutradara udah minta ma'af dan Keluarga Besar Batak itu pun udah bikin acara syukuran untuk peristiwa itu (sumber koran gosip setempat).

Older Posts Home